KAJIAN FONOLOGI PROSES PEMBUNYIAN KATA DALAM BAHASA BALI PADA MASYARAKAT DESA PANGLIPURAN

  • Alfianita UPN Veteran Jawa Timur
  • Habiba Tsalisa Shofiah UPN Veteran Jawa Timur
  • Alfi Najua Nabila UPN Veteran Jawa Timur
  • Ayu Diana UPN Veteran Jawa Timur
  • Thio Zaki Pamungkas UPN Veteran Jawa Timur
  • Endang Sholihatin UPN Veteran Jawa Timur
Keywords: Pembunyian Kata, Bahasa Bali, Fonologi

Abstract

Artikel ini menganalisis fonologi dalam proses pembunyian kata dalam bahasa Bali pada masyarakat Desa Panglipuran. Bahasa Bali merupakan satu dari bahasa yang kaya akan variasi fonologisnya. Namun, hingga saat ini belum banyak penelitian yang secara mendalam mengkaji tentang proses pembunyian kata dalam bahasa Bali. Oleh karena itu, penelitian ini akan memberikan kontribusi baru dalam bidang linguistik dengan menganalisis fonologi dalam proses pembunyian kata bahasa Bali. Tujuan penelitian ini yaitu: 1) Mengetahui proses pembunyian kata bahasa Bali, 2) Mengetahui proses pembunyian kata dalam bahasa Bali dengan cara yang mudah dipahami oleh pembaca. Penelitian ini akan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengumpulkan data dari penutur desa adat Panglipuran Bali. Data akan dikumpulkan melalui observasi dan wawancara langsung dengan informan penutur bahasa Bali di desa adat Panglipuran. Kesimpulan penelitian ini yaitu: 1) Proses pembunyian kata bahasa Bali dapat diidentifikasi dan dijelaskan sebagai berikut: a) Adanya variasi fonologis dalam pelafalan kata berdasarkan tingkatan bahasa (Asi, Asuh, Beka/Weka, dan Ami), b) terjadi perubahan bunyi pada kata -kata tertentu sesuai dengan konteks penggunaan dan status sosial pembicara serta lawan bicara, c) Proses asimilasi bunyi dapat terjadi ketika kata-kata dari tingkatan bahasa yang berbeda digunakan dalam satu kalimat, 2) Proses pembunyian kata dalam bahasa Bali yang mudah Dipahami oleh pembaca yaitu dengan memberikan contoh-contoh kata untuk aktivitas sehari-hari, seperti kata-kata untuk tidur (sirep, merem, sare, ngidam) dan kata-kata untuk makan (ngerayuna, ngajeng, dahar, neda/ngama). Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana pemilihan kata yang tepat sesuai dengan tingkatan bahasa dapat menyampaikan makna yang lebih halus, sopan, dan sesuai dengan konteks sosial. Dengan pemahaman terhadap perbedaan pembunyian kata ini, pembaca dapat lebih menghargai kekayaan pemahaman dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa Bali.

References

Aryati, K. F. (2018). Perkembangan Fonologi dalam Pembelajaran Bahasa Inggris pada Mahasiswa Perhotelan di Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional. Jurnal Manajemen Pelayanan Hotel, 2(2), 81-92.
Rismaya, R., & Riyanto, S. (2021). Kebingungan Pengucapan Fonem dalam Kosakata Bahasa Indonesia oleh Vlogger Asing Berbahasa Indonesia. Tinjauan Linguistik dan Pustaka, 6(1), 1-16.
Andriyana, A., & Iswatiningsih, D. (2022). Kesalahan Fonologi Mahasiswa Vietnam Tingkat BIPA 1 dalam Pelafalan Fonem Bahasa Indonesia. Jurnal Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (JBIPA), 4(2), 119-124.
Swandana, W. (2018). Fonologi Bahasa Bali Dialek Jembrana. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 7(1), 77-86.
Suindratini, D. A. N., Gosong, I., & Rasna, I. W. (2013). Interferensi Bahasa Bali dan Bahasa Asing dalam Cerita Lisan Bahasa Indonesia Kelas VII Siswa SMP Negeri 10 Denpasar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Bahasa Indonesia, 2.
Putu, A. A., Seri, N. L. N., & Suparwa, I. N. (2015). Adaptasi Kosakata Bahasa Bali dalam Bahasa Melayu Loloan Bali. LITERA, 14(1).
Published
2024-08-25
How to Cite
Alfianita, Habiba Tsalisa Shofiah, Alfi Najua Nabila, Ayu Diana, Thio Zaki Pamungkas, & Endang Sholihatin. (2024). KAJIAN FONOLOGI PROSES PEMBUNYIAN KATA DALAM BAHASA BALI PADA MASYARAKAT DESA PANGLIPURAN. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 10(3), 428 - 434. https://doi.org/10.36989/didaktik.v10i3.3846