PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BEBASIN (BELAJAR BERSAMA SEJARAH INDONESIA) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS
Abstract
Technological developments occur in various sectors, including education. Teachers are expected to utilize existing technology to enhance 21st-century skills, one of which is critical thinking. Based on the results of interviews conducted at four schools in Panyingkiran District, the learning process in the classroom has not fully utilized technology. Teachers still use outdated methods and rely on textbooks provided by the government, which results in students having low critical thinking skills. This study aims to develop teaching materials that can improve critical thinking skills of students. This study uses a 4D research model with four stages: Define, Design, Develop and Disseminate. The results of the validation test obtained a very valid category. Furthermore, based on the results of the assessment by teachers and students, this teaching material is very practical to use in the learning process. Meanwhile, the results of student tests on the developed teaching materials indicate the effectiveness of the use of BEBASIN teaching materials. Therefore, it can be concluded that this BEBASIN teaching material is suitable for use in learning social sciences content of the history of kingdoms in Indonesia.
References
Ha : Terdapat perbedaan yang signifikan pada ketermampilan berpikir kritis peserta didik sebelum dan sesudah menggunakan bahan ajar BEBASIN.
Kriteria pengujian dengan menggunakan nilai signifikansi antara lain sebagai berikut.
1. Jika nilai sig < 0,50, maka Ha diterima.
2. Jika sig > 0,50, maka Ho diterima.
C.Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil Penelitian
Tahap awal dalam penelitian ini yaitu dengan pendefinisian (Define). Peneliti menganalisi permasalahan yang ada ke 4 Sekolah Dasar yang ada Kecamatan Panyingkiran, Majalengka. Keempat sekolah tersebut diantaranya SDN Bantrangsana, SDN Pasirmuncang, SDN Jatipamor dan SDN Panyingkiran. Analisis yang dilakukan ini dengan cara mewawancarai guru kelas ini mengahasilkan informasi bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik ini masih tergolong rendah, tidak semua peserta didik tetapi kebanyakan peserta didik belum sepenuhnya dapat menguasai keterampilan berpikir kritis. Hal ini ditandai dengan peserta didik yang belum mampu dalam menyampaikan pendapat sendiri, kemampuan dalam menyimpulkan, memberikan penjelasan dan mengajukan pertanyaan secara kritis. Hal ini menjadi salah satu permasalahan yang ada di keempat sekolah tersebut. Penggunaan digital juga belum sepenuhnya dilaksanakan di sekolah-sekolah ini, guru-guru lebih banyak memanfaatkan buku ajar yang diberikan pemerintah dan seringkali menggunakan metode ceramah sehingga peserta didik kurang berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Lebih spesifik pada mata pelejaran IPAS muatan IPS materi tentang kerajaan di Indonesia atau Nusantara pada saat itu.
Masih dalam tahapan pendefinisian, langkah selanjutnya yakni dengan menganalisis kebutuhan peserta didik untuk mengetahui bagaimana karakteristik peserta didik











