KOMUNIKASI PENGASUHAN NEUROSAINS DALAM KOMUNIKASI PENGASUHAN

  • Nur Armiyati Universitas Negeri Makassar
  • Mardiana Universitas Negeri Makassar
  • Salwa Arisanti Universitas Negeri Makassar
  • Astira Sri Rahayu Universitas Negeri Makassar
  • Evarastina Universitas Negeri Makassar
  • Herman Universitas Negeri Makassar
Keywords: Neuroscience, Early childhood, human intelligence.

Abstract

The brain is the center of human intelligence that controls the nervous system in
capturing learning. Early childhood education through a neuroscience approach
can be implemented through various methods, including by providing education
first and must understand the performance of the human brain. In addition, it also
pays attention to the natural work of the brain of students in the learning process.
The purpose of this paper is to describe the importance of understanding the
neuroscience approach for early childhood in the learning process. This article
explores how neuroscience principles can be used to design teaching methods
that are more effective and in accordance with childrens cognitive development.
Neuroscience-based learning emphasizes the balance of the use of various parts
of the brain, not just the logically oriented left brain. Although there are challenges
in applying scientific findings to educational practice, a deep understanding of
neuroscience can create a learning environment that supports childrens holistic
growth. Thus, this paper aims to strengthen the relevance of neuroscience in
improving the quality of early childhood post-education.

References

Buku :
Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2020)
membahas bagaimana kehadiran
emosional orang tua memainkan
peran kunci dalam membentuk
perkembangan otak dan karakter
anak, serta bagaimana interaksi yang
konsisten dapat membantu anak
berkembangan secar optimal.
Kolb, B., & Gibb, R. (2019)
mengeksplorasi konsep plastisitas
otak dan bagaimana pengalaman
serta lingkungan dapat
mempengaruhi perilaku melalui
perubahan struktual dan fungsional
dalam, otak.
Perry, B. D., & Winfrey, O. (2021)
mengangkat diskusi mengenai
dampak trauma pada pada
perkembangan individu, serta
bagaiman ketahanan dan
penyembuhan dapat dibangun
melalui pengalaman dan hubungan
yang suportif
Diamond, A. (2020) membahas
fungsi eksekutif otak, termasuk
kemampuan mengendalikan diri,
berpikir fleksibel, dan memori kerja,
serta bagaimana dapat
mempengaruhi perkembangannya.Sapolsky, R. M. (2019) mengkaji
faktor biologis yang mempengaruhi
perilaku manusia, baik dalam aspek
positif maupun negatif, dengan
menyoroti peran system saraf,
hormon, dan lingkungan dalam
menentukan respons manusia
terhadap berbagai situasi.
Artikel in Press :
Shonkoff, J. P., Garner, A. S., Siegel,
D. J., & Committee on Psychosocial
Aspects of
Child and Family Health. (2021). The
Lifelong Effects of Early Childhood
Adversity and Toxic Stress.
Pediatrics, 129(1), e232-e246.
Davidson, R. J., & McEwen, B. S.
(2022). Social Influences on
Neuroplasticity: Stress and
Interventions to Promote Well-Being.
Nature Neuroscience, 15(5), 689-695.
Giedd, J. N. (2020). The Amazing
Teen Brain: What Neuroscience Tells
Us About the
Brains of Adolescents. Cerebrum,
12(1), 12-19.
Siegel, D. J. & Bryson, T. P.
(2020). The Power of Showing Up.
Center on the Developing Child,
Harvard University. Brain
Architecture.
Porges, S. W. (2022). The Polyvagal
Theory.
Jurnal :
Dhyani, C. H. (2024) meneliti
bagaimana pendekatan

neuroparenting berkontribusi pada
pembentukan perilaku positif anak
usia dini melalui komunikasi
pengasuhan yang efektif, dengan
studi kasus di TK Dahlia, Tapung
Lestari.
Susanti, S. (2024) menjelaskan
dampak strategi pembelajaran
berbasis neurosains terhadap aspek
kognitif, emosional, dan perilaku anak
usia dini, khususnya dalam konteks
komunikasi pengasuhan.
Royani, I. (2020) mengkaji peran
neurosains dalam meningkatkan
kecerdasan intelektual peserta didik
di SD Islam Al-Azhar melalui
pendekatan pendidikan dan
pengasuhan yang sesuai.
Royani, I. (2021) menyoroti
pentingnya neurosains dalam
pendidikan dan pengasuhan anak
usia dini untuk mendukung
perkembangan otak serta
membentuk perilaku positif.
Royani, I. (2024) membahas
bagaimana penerapan neurosains
dalam pembelajaran di pondok
pesantren dapat membantu
membangun karakter peserta didik,
terutama dalam kaitannya dengan
komunikasi pengasuhan.
Wijaya, H. (2020) membahas
penerapan neurosains dalam
pendidikan modern, terutama dalam
mengoptimalkan potensi otak anak,
termasuk dalam komunikasi dan pola
asuh.
Published
2025-08-18
How to Cite
Nur Armiyati, Mardiana, Salwa Arisanti, Astira Sri Rahayu, Evarastina, & Herman. (2025). KOMUNIKASI PENGASUHAN NEUROSAINS DALAM KOMUNIKASI PENGASUHAN. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 11(02), 221 - 226. https://doi.org/10.36989/didaktik.v11i02.7789