PENGUATAN INTERPRETASI YURIDIS TERHADAP PASAL 135 UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 DALAM PENANGANAN KASUS PERKAWINAN SEMU

  • Scientia Ulfa Gakenti Politeknik Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia
Keywords: Sham Marriage; Article 135; Immigration Law; Legal Interpretation; Immigration Enforcement.

Abstract

Article 135 of Law No. 6 of 2011 on Immigration sets forth criminal penalties specifically designed to combat the practice of sham marriages entered into by foreign nationals for the purpose of obtaining immigration documents or citizenship of the Republic of Indonesia. This provision establishes cumulative criminal liability, namely imprisonment for a maximum of five years and a fine of up to Rp500,000,000.00 for any person who enters into a mixed marriage not based on a genuine intention to marry, but solely to obtain immigration documents or Indonesian citizenship. Although this normative basis is explicitly in place, immigration law enforcement officials at the operational level often show hesitation in applying Article 135, due to normative ambiguity in determining the “non-genuine” nature of a marriage, the absence of a regulatory definition regarding the indicators for proving a sham marriage, as well as jurisdictional uncertainties arising from the intersection of immigration law with civil and religious family law. This study employs a normative legal research method that combines statutory, conceptual, and case-based approaches to examine the legal construction of Article 135, analyze its elements of proof in relation to sham marriages, and formulate an interpretive framework capable of guiding immigration officials in their operational duties. Based on empirical statistical data on enforcement actions by the Directorate General of Immigration for 2023–2025, comparative jurisprudence from the European Union and Southeast Asian jurisdictions, as well as documented case studies of Indonesian immigration law enforcement practices, this study argues that Article 135 has sufficient normative scope when interpreted teleologically, systematically, and extensively to cover the entire spectrum of sham marriage acts. The study concludes with concrete recommendations for regulation and interpretation, including a proposed Circular Letter from the Director General of Immigration and a standard evidence checklist for field officers..

References

Jurnal
Aji, K. P., & Kurniawan, A. T. (2018). Menakar Eksistensi Pasal 135 Undang-Undang Keimigrasian Terkait Pembuktian Perkawinan Semu Pada Pidana Keimigrasian. Jurnal Ilmiah Kajian Keimigrasian, 1(1), 1–15.
Mulia, A., Lencana, I. W. P., & Seskoaria, J. (2021). Perkawinan Semu Dalam Perspektif Pidana Keimigrasian. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi (Jiubj), 21(3), 1254–1257. Https://Doi.Org/10.33087/Jiubj.V21i3.1727
Ninage, M. B., & Diamantina, A. (2022). Pencegah Penyalahgunaan Izin Tinggal Kunjungan Warga Negara Asing Oleh Kantor Imigrasi Semarang. Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, 4(2), 197–212. Https://Doi.Org/10.14710/Jphi.V4i2.197-212
Qalandy, M. R., & Syahrin, M. A. (2021). Instrumen Penegakan Hukum Bagi Tenaga Kerja Asing Yang Menyalahgunakan Izin Tinggal Keimigrasian. Jlr – Jurnal Legal Reasoning, 4(1), 1–16. Https://Doi.Org/10.35814/Jlr.V4i1.2962
Rahayu, D. D., Arifin, R., & Zakaria, L. L. (2023). Disparitas Sistem Pidana Dalam Undang-Undang Keimigrasian Indonesia Tahun 2011. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, 17(1), 25–40. Https://Doi.Org/10.30641/Kebijakan.2023.V17.25-40
Syahrin, M. A. (2017). Perkawinan Semu: Anomali Sosial Dan Implikasi Hukum. Jurnal Imigrasi, 2(1), 45–58.
Wahyuni, S. (2021). Penegakan Hukum Terhadap Penyalahgunaan Izin Tinggal Berbasis Perkawinan Oleh Warga Negara Asing. Jurnal Ilmiah Kajian Keimigrasian, 4(1), 45–62.
Zein, F., Syahrin, M. A., & Mirwanto, T. (2022). Reformulasi Sanksi Pidana Pasal 116 Juncto Pasal 71 Huruf B Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian. Jurnal Ilmiah Kajian Keimigrasian, 5(1), 97–118. Https://Doi.Org/10.52617/Jikk.V5i1.326

Buku
Anggono, B. D., Riewanto, A., & Madril, O. (2022). Hukum Keimigrasian: Suatu Pengantar (1st Ed.). Depok: Pt Raja Grafindo Persada.
Friedman, L. M. (1975). The Legal System: A Social Science Perspective. New York: Russell Sage Foundation.
Hadjon, P. M. (2010). Pengantar Hukum Administrasi Negara. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kusumaatmadja, M., & Sidharta, B. A. (2009). Pengantar Ilmu Hukum: Suatu Pengenalan Pertama Ruang Lingkup Berlakunya Ilmu Hukum. Bandung: Alumni.
Marzuki, P. M. (2017). Penelitian Hukum (Edisi Revisi). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Prodjodikoro, W. (2011). Asas-Asas Hukum Perjanjian. Bandung: Mandar Maju.
Rahardjo, S. (2009). Hukum Progresif: Sebuah Sintesa Hukum Indonesia. Yogyakarta: Genta Publishing.
Sihombing, S. (2013). Hukum Keimigrasian Dalam Hukum Indonesia. Bandung: Nuansa Aulia.
Soekanto, S., & Mamudji, S. (2015). Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat (Edisi Revisi). Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Peraturan Perundang-Undangan
Republik Indonesia. (1974). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Sebagaimana Diubah Dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019. Lembaran Negara Ri Tahun 1974 Nomor 1.
Republik Indonesia. (2006). Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 Tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Lembaran Negara Ri Tahun 2006 Nomor 63.
Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian. Lembaran Negara Ri Tahun 2011 Nomor 52.
Republik Indonesia. (2013). Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2013 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian, Sebagaimana Diubah Dengan Pp Nomor 26 Tahun 2016. Lembaran Negara Ri Tahun 2013 Nomor 68.

Internet/Website
Antara. (2015, Mei 18). Warga India Ditangkap Gunakan Surat Nikah Palsu. Antara News. Https://Www.Antaranews.Com/Berita/496582/Warga-India-Ditangkap-Gunakan-Surat-Nikah-Palsu
Council Of The European Union. (1997). Council Resolution Of 4 December 1997 On Measures To Be Adopted On The Combating Of Marriages Of Convenience. Official Journal Of The European Communities, C 382, 1–3.
Direktorat Jenderal Imigrasi. (2021). Ketahui Cara Mengajukan Izin Tinggal Tetap (Itap) Untuk Wna. Https://Www.Imigrasi.Go.Id/Berita/2021/08/23/Ketahui-Cara-Mengajukan-Itap
Direktorat Jenderal Imigrasi. (2024a). Dirjen Imigrasi: Semester Satu 2024, Imigrasi Deportasi 1.503 Orang Asing, Naik 135,21% Dari Tahun 2023. Https://Www.Imigrasi.Go.Id/Siaran_Pers/2024/07/08/Dirjen-Imigrasi-Semester-Satu-2024
Direktorat Jenderal Imigrasi. (2025). Tekan Angka Pelanggaran Keimigrasian, Wna Wajib Ke Kantor Imigrasi Untuk Perpanjangan Izin Tinggal. Https://Www.Imigrasi.Go.Id/Siaran_Pers/Tekan-Angka-Pelanggaran-Keimigrasian
Hukumonline. (2011, April 8). Perkawinan Semu Wna Diancam Pidana. Https://Www.Hukumonline.Com/Berita/A/Perkawinan-Semu-Wna-Diancam-Pidana-Lt4d9f9be1a78e7.
Published
2026-07-30
How to Cite
Scientia Ulfa Gakenti. (2026). PENGUATAN INTERPRETASI YURIDIS TERHADAP PASAL 135 UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2011 DALAM PENANGANAN KASUS PERKAWINAN SEMU. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 12(3), 338 - 355. https://doi.org/10.36989/didaktik.v12i3.17890