ANALISIS PUISI “DIPONEGORO” KARYA CHAIRIL ANWAR DALAM PERSPEKTIF POST KOLONIALISME

  • Alivia Okta Salwa Universitas Lampung
  • Heru Prasetyo Universitas Lampung
  • Ayu Setiyo Putri Universitas Lampung
Keywords: pasca-kolonialisme, puisi Indonesia, Chairil Anwar, Diponegoro, kolonialisme

Abstract

ABSTRACT
This study aims to analyze the poem “Diponegoro” by Chairil Anwar through a
post-colonial framework. The poem is considered a symbolic representation of the
spirit of resistance against Dutch colonialism. The focus of the study includes three
main concepts in post-colonial theory: subaltern voice, colonial discourse
hegemony, and cultural resistance. The method used is descriptive-qualitative
analysis with a close reading technique of the poem's text. The findings indicate
that Chairil Anwar, through this poem, elevates the voice of local figures previously
marginalized by colonial narratives,rejects the cultural inferiority imposed on the
colonized nation, and constructs a strong symbol of nationalism within a post-
colonial discourse. The poem also reveals identity hybridity as a space of
negotiation between local culture and foreign influence.
Keywords: post-colonialism, Indonesian poetry, Chairil Anwar, Diponegoro,
colonialism
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis puisi “Diponegoro” yang
ditulis oleh Chairil Anwar menggunakan pendekatan pasca-kolonial. Puisi ini
dipandang sebagai representasi simbolis dari semangat perlawanan terhadap
penjajahan Belanda. Fokus kajian ini mencakup tiga konsep utama dalam teori
pasca-kolonial: suara subaltern, hegemoni wacana kolonial, dan resistensi
budaya. Metode yang diterapkan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan teknik
pembacaan mendalam terhadap teks puisi. Temuan penelitian menunjukkan
bahwa Chairil Anwar melalui puisi ini mengangkat suara tokoh lokal yang
sebelumnya terpinggirkan oleh narasi kolonial, menolak rasa inferioritas budaya
bangsa terjajah, serta membangun simbol nasionalisme yang kuat dalam konteks
pasca-kolonial. Puisi ini juga menunjukkan adanya hibriditas identitas bangsa
sebagai ruang pertemuan antara budaya lokal dan pengaruh asing.
Kata Kunci: pasca-kolonialisme, puisi Indonesia, Chairil Anwar, Diponegoro,
kolonialisme

References

Anwar, C. (1948). Diponegoro. Dalam
Deru Campur Debu. Jakarta:
Pustaka Rakyat.
Bhabha, H. K. (1994). The location of
culture. London: Routledge.
Endraswara, S. (2013). Metodologi
penelitian sastra. Yogyakarta:
Media Pressindo.
Hawa, N. (2022). Bahasa puitik
sebagai alat perlawanan:
Perspektif postkolonial dalam
sastra Indonesia. Jurnal Sastra
dan Budaya, 17(1), 45–60.
Jupriono, D., & Supsiadji, M. R.
(2023). Beberapa perspektif
sosiologi sastra: Dari
strukturalisme genetik ke resepsi
sastra. TANDA: Jurnal Ilmu
Budaya, 1(1), 51–60.
Kurniawan, D. (2019). Gaya bahasa
revolusioner Chairil Anwar dalam
perspektif sejarah sastra. Jurnal
Bahasa dan Sastra, 12(2), 89–103.
Latifah, S. A., & Wahyuni, S. (2024).
Peralatan hidup dan teknologi
dalam novel Haniyah dan Ala di
Rumah Teteruga. Jurnal Bahasa
dan Sastra, 9(1), 75–85.
Lutfi, M. (2024). Kajian
postkolonialisme sajak-sajak
Chairil Anwar. Jakarta: Google
Books.
Nugraha, D. S., Zuriyati, Z., & Attas,
S. G. (2020). Ideologi perlawanan
dalam puisi Acep Zamzam Noor:
Kritik poskolonial-Marxis. Al-
Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Keislaman
dan Kebudayaan, 17(2), 102–118.
Pradopo, R. D. (2019). Puisi dan
perjuangan: Analisis historis karya
Chairil Anwar. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Pradopo, R. D. (2021). Simbolisme
perlawanan dalam puisi Indonesia
modern. Surakarta: Penerbit
Sastra Nusantara.
Prihantono, K. D. (2018). Estetika
posmodern dalam puisi “Aku Ingin”
karya Saut Situmorang. Jurnal
Bahasa dan Sastra Indonesia,
5(2), 33–41.
Putri, A. Y. (2023). Neokolonialisme
budaya di era digital: Studi kasus
Indonesia. Jurnal Ilmu Sosial
Kontemporer, 8(1), 22–39.
Ridwan, F. A. (2024). Chairil Anwar
dan semangat Angkatan '45.
Jurnal Sastra Merdeka, 10(1), 11–
27.
Rohman, S., & Wicaksono, A. (2018).
Tentang sastra: Orkestrasi teori
dan pembelajarannya. Yogyakarta:
Deepublish.
Safitri, D., Waluyo, H. J., &
Saddhono, K. (2019).
Posmodernisme dan
poskolonialisme dalam puisi Chairil
Anwar. Prosiding Seminar
Nasional Inovasi Pendidikan
Bahasa, Sastra, dan Seni, 1(1),
135–144.
Salamah, S. (2024). Sastra pasca-
kolonial dan identitas nasional di
Indonesia. Jakarta: Penerbit
Bahasa & Budaya.
Satyana, I. (2017). Analisis wacana
kritis dan postkolonialisme dalam
sastra Indonesia. Prosiding
Seminar Nasional Basasbud,
Universitas Diponegoro, 77–85.
Widyaningrum, A., & Hartarini, Y. M.
(2023). Pengantar ilmu sastra.
Jakarta: Google Books.
Widyaningrum, M., & Lestari, D.
(2023). Hibriditas dalam sastra
Indonesia: Pendekatan pasca-
kolonial terhadap Chairil Anwar.
Jurnal Kajian Sastra dan Budaya,
9(2), 55–74.
Wulandari, T., & Lestari, D. (2022).
Sastra dan ingatan kolektif: Fungsi
tokoh sejarah dalam karya Chairil
Anwar. Jurnal Humaniora
Nusantara, 6(3), 88–101.
Yudiono, K. S. (2009). Pengkajian
kritik sastra Indonesia. Jakarta:
Grasindo.
Published
2025-12-20