Aksentuasi : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi
<p>Aksentuasi : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia adalah salah satu jurnal yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Subang. Cakupan penelitian dalam jurnal ini adalah penelitian pendidikan bahasa dan sastra. Jurnal ini terbit pada bulan Mei dan November pada setiap tahunnya. Penerbitan Aksentuasi : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia diproses oleh reviewer yang ahli dibidangnya.</p>STKIP Subangen-USAksentuasi : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia<h1 class="page_title">Copyright Notice</h1> <div class="page"> <h2><a href="http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/" rel="license"><img src="https://i.creativecommons.org/l/by/4.0/88x31.png" alt="Creative Commons License"></a></h2> <div class="page"> <p>This work is licensed under a <a href="http://creativecommons.org/licenses/by/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution 4.0 International License</a>.</p> </div> </div>PERKAWINAN DAN IDENTITAS PEREMPUAN SEBUAH TINJAUAN FEMINISME DALAM CERPEN KETIKA PERKAWINAN HARUS DIMULAI KARYA OKA RUSMINI
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/6245
<p><em>This article analyzes Oka Rusmini's short story entitled "When Marriage Must Begin" from the perspective of feminism. This short story describes the challenges faced by women who have to get married and fulfill their roles as wives and mothers in accordance with societal expectations. The main character, Dayu Bulan, reflects the figure of a woman who struggles to maintain her desire to live independently despite being constantly faced with social pressure. This article also discusses how patriarchal culture affects women's freedom to make their life choices, as well as how marriage is often seen as the only way for women to achieve happiness. Using the qualitative method of desktiptf, it can be concluded that the short story not only criticizes the norms that resstrain women, but also teaches how important it is to respect everyone's life choices.</em></p>Rista SeptiwiantiNita Nurhayati
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062204214ANALISIS PUISI “DIPONEGORO” KARYA CHAIRIL ANWAR DALAM PERSPEKTIF POST KOLONIALISME
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/6464
<p>ABSTRACT<br>This study aims to analyze the poem “Diponegoro” by Chairil Anwar through a<br>post-colonial framework. The poem is considered a symbolic representation of the<br>spirit of resistance against Dutch colonialism. The focus of the study includes three<br>main concepts in post-colonial theory: subaltern voice, colonial discourse<br>hegemony, and cultural resistance. The method used is descriptive-qualitative<br>analysis with a close reading technique of the poem's text. The findings indicate<br>that Chairil Anwar, through this poem, elevates the voice of local figures previously<br>marginalized by colonial narratives,rejects the cultural inferiority imposed on the<br>colonized nation, and constructs a strong symbol of nationalism within a post-<br>colonial discourse. The poem also reveals identity hybridity as a space of<br>negotiation between local culture and foreign influence.<br>Keywords: post-colonialism, Indonesian poetry, Chairil Anwar, Diponegoro,<br>colonialism<br>ABSTRAK<br>Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis puisi “Diponegoro” yang<br>ditulis oleh Chairil Anwar menggunakan pendekatan pasca-kolonial. Puisi ini<br>dipandang sebagai representasi simbolis dari semangat perlawanan terhadap<br>penjajahan Belanda. Fokus kajian ini mencakup tiga konsep utama dalam teori<br>pasca-kolonial: suara subaltern, hegemoni wacana kolonial, dan resistensi<br>budaya. Metode yang diterapkan adalah analisis deskriptif kualitatif dengan teknik<br>pembacaan mendalam terhadap teks puisi. Temuan penelitian menunjukkan<br>bahwa Chairil Anwar melalui puisi ini mengangkat suara tokoh lokal yang<br>sebelumnya terpinggirkan oleh narasi kolonial, menolak rasa inferioritas budaya<br>bangsa terjajah, serta membangun simbol nasionalisme yang kuat dalam konteks<br>pasca-kolonial. Puisi ini juga menunjukkan adanya hibriditas identitas bangsa<br>sebagai ruang pertemuan antara budaya lokal dan pengaruh asing.<br>Kata Kunci: pasca-kolonialisme, puisi Indonesia, Chairil Anwar, Diponegoro,<br>kolonialisme</p>Alivia Okta SalwaHeru PrasetyoAyu Setiyo Putri
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062215226ANALISIS FRASE IDIOMATIK BERTEMA KEMATIAN DALAM CERPEN PARADE KEMATIAN KARYA ANA MAULINA
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/6539
<p><em>Death is a universal theme frequently found in literary works as a reflection of the most essential human experience. The short story </em>Parade Kematian<em> by Ana Maulina presents the concept of death through various idiomatic expressions rich in symbolic and emotional meaning. This study aims to identify and analyze death-themed idiomatic phrases found in the story and to explore their meanings and stylistic functions in constructing the narrative. A descriptive qualitative method was employed using stylistic and contextual semantic approaches. Data were collected through a close reading of the text, identification and classification of idiomatic phrases based on grammatical categories and idiomatic meanings, followed by analysis using idiom theory and connotative semantic interpretation. The results show that twelve death-related idiomatic phrases are used in the story, categorized into nominal, verbal, and adjectival phrases. These idioms serve not only as euphemisms for death but also reinforce the psychological atmosphere of the characters, create dramatic effects, and implicitly convey philosophical and religious messages. This study contributes to linguistic literary studies, particularly in understanding how idiomatic language functions as an aesthetic and expressive tool to depict the existential human experience. The findings of this research enrich the knowledge of idiom function in literary texts and provide a conceptual basis for future research in similar fields. </em></p> <p><em><strong>Keywords</strong>: Idiomatic phrases, Death, Short story, Stylistics, Contextual semantics.</em></p> <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Kematian merupakan tema universal yang kerap hadir dalam karya sastra sebagai bentuk refleksi atas pengalaman manusia yang paling esensial. Cerpen <em>Parade Kematian</em> karya Ana Maulina menyajikan representasi kematian melalui berbagai ungkapan idiomatik yang sarat makna simbolis dan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis frasa idiomatik bertema kematian yang terdapat dalam cerpen tersebut serta mengungkap makna dan fungsi stilistiknya dalam membangun narasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan stilistika dan semantik kontekstual. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca cermat teks cerpen, mengidentifikasi frasa idiomatik, mengklasifikasikannya berdasarkan kategori gramatikal dan makna idiomatik, serta menganalisisnya menggunakan teori idiom dan semantik makna konotatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua belas frasa idiomatik bertema kematian dalam cerpen tersebut yang terbagi ke dalam frasa nominal, verbal, dan adjektival. Idiom-idiom tersebut tidak hanya berfungsi sebagai eufemisme atas kematian, tetapi juga memperkuat suasana psikologis tokoh, menciptakan efek dramatik, serta menyampaikan pesan filosofis dan religius secara implisit. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian linguistik sastra, khususnya dalam memahami bagaimana bahasa idiomatik digunakan sebagai alat estetis dan ekspresif dalam menyampaikan pengalaman eksistensial manusia. Manfaat dari penelitian ini adalah menambah khazanah pemahaman tentang fungsi idiom dalam teks sastra serta memberikan landasan analitis bagi penelitian sejenis di masa depan.</p> <p>Kata Kunci: Frase idiomatik, Kematian, Cerpen, Stilistika, Semantik kontekstual.</p>Dyah Ayu NovitasariHaryadi
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062240250Perubahan Makna dalam Penggunaan Narasi “Antek Asing” Oleh Prabowo: Analisis Konsumsi Teks Teori Wacana Kritis Fairclought
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/6578
<p>This study aims to examine the changes in meaning in the use of the “foreign stooge” <br>narrative by Prabowo Subianto through a critical discourse analysis approach developed by <br>Norman Fairclough. The main data for the study were taken from a short video on the <br>TEMPO.CO Youtube channel that featured Prabowo’s statement regarding the term. <br>Qualitative methods were used to identify how the “foreign stooge” narrative shifted in <br>meaning from the campaign period to after Prabowo entered the circle of power. The <br>analysis was conducted with a focus on the dimensions of text, discursive practice, and <br>social practice as Fairclough’s three main dimensions, to examine the ideological <br>construction and rhetorical strategies used. The results of the study show that the “foreign <br>stooge” narrative was initially directed at the government as a political opponent, but was <br>later diverted to groups that criticized the government such as the media and NGOs after <br>Prabowo joined power. This shift in meaning reflects a strategic adaptation in political <br>communication that functions to maintain legitimacy and direct public opinion in the dynamic <br>and polarized socio-political context of Indonesia. This study emphasizes the role of political <br>discourse as an ideological tool that not only represents reality, but also shapes and <br>influences power structures through language. <br>Keywords: Foreign stooges, Political narratives, Fairclough's critical discourse</p>Junita Faruq
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062251260Deviasi Semantis dalam bentuk majas perbandingan dan pertautan pada cerpen "Pria Jangkung yang Kerap Tersandung"
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/6805
<p>Penelitian ini mengkaji bentuk dan fungsi deviasi semantis dalam majas perbandingan dan pertautan pada cerpen Pria Jangkung yang Kerap Tersandung karya Vahira Mona Luthfita. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dan teknik analisis isi, penelitian ini mengidentifikasi penggunaan simile, metafora, personifikasi, alegori, metonimia, dan sinekdoke sebagai bentuk deviasi semantis. Data diperoleh dari teks cerpen dengan teknik dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa deviasi semantis berfungsi sebagai sarana estetik sekaligus retoris yang menggambarkan gejolak batin tokoh dan realitas sosial. Simile menggambarkan kelelahan fisik dan emosional, sedangkan alegori menjadi simbol perlawanan terhadap norma sosial. Majas-majas tersebut memperkuat struktur tematik dan emosional cerita. Penelitian ini mendukung teori stilistika bahwa deviasi semantis memiliki peran penting dalam membentuk makna simbolik karya sastra.</p>Muhammad Nur SidiqBohri Rahman
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062261268FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL KELUARGA TERHADAP PEMEROLEHAN BAHASA PADA ANAK 4-5 TAHUN
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/6822
<p>Studi ini menyelidiki dampak tingkat kesibukan profesional orang tua terhadap akuisisi bahasa pada anak-anak berusia 4 hingga 5 tahun. Penelitian ini secara khusus membandingkan kompetensi linguistik dua subjek: Qia (4 tahun), yang tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan waktu luang orang tua yang substansial, dan Arkan (5 tahun), yang dibesarkan oleh orang tua dengan jadwal kerja yang sangat padat. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, mengadopsi pendekatan studi kasus. Pengumpulan data melibatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi interaksi verbal sehari-hari. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Qia, anak yang diasuh oleh orang tua dengan ketersediaan waktu yang lebih besar, menunjukkan kematangan morfologis dan sintaksis yang lebih unggul, ditandai dengan perbendaharaan kata yang lebih luas dan konstruksi kalimat yang lebih canggih. Sebaliknya, Arkan, yang orang tuanya memiliki tingkat kesibukan kerja yang tinggi, memperlihatkan perkembangan bahasa yang lebih lambat, yang bermanifestasi dalam pelafalan yang kurang optimal dan struktur kalimat yang kurang kompleks. Temuan ini menggarisbawahi krusialnya intensitas dan mutu interaksi verbal dalam lingkungan keluarga sebagai penentu utama dalam mendukung kemajuan bahasa anak. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman akan peranan aktif dan kehadiran orang tua dalam stimulasi bahasa pada masa kanak-kanak awal.</p>MutmainnahQurotul AiniyahLailatul Fitri AmeliaIrodatul Bahriyah
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062269280The Interaction of Memory, Thought, and Language in the Word Retrieval Process of Qur'an-Memorizing Students in the UTM Dormitory
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/6883
<p><em>This study aims to analyze the interaction between memory, thought, and language in the process of word retrieval among Qur’an memorizing students at the dormitory of Universitas Trunojoyo Madura (UTM). The approach used is psycholinguistic with a descriptive qualitative method. The research focuses on the mechanisms of long-term memory formation, cognitive strategies to retain memorization, and the role of language in the repetition and interpretation of Qur’anic verses. Data collection techniques include in-depth interviews, participant observation, and documentation. The results show that students actively employ repeated reading strategies (muroja’ah), spatial understanding of verse placement in the mushaf, and tasmi’ as forms of active retrieval from long-term memory. These three strategies demonstrate a strong interrelation between cognitive processing, memory function, and language ability. The memorization process of the Qur’an among these students proves to be a complex psycholinguistic activity involving the simultaneous integration of cognitive and linguistic systems. These findings contribute to the reinforcement of psycholinguistic theory in the context of memorization-based education.</em></p>Eti Nur HalimahNadia Cinta PuriNurhayati Cahyuni
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062281289Hubungan Bahasa dan Kebudayaan dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap Menurut Perspektif Sosiolinguistik
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/7004
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Rumusan masalah yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana hubungan bahasa dan Kebudayaan dalam film Ngeri-Ngeri sedap ditinjau dari perspektif sosiolinguistik. Tujuan dari penelitian ini untuk memahami hubungan antara bahasa dan kebudayaan dalam film Ngeri-Ngeri Sedap menggunakan sudut pandang sosiolinguistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjelaskan hubungan bahasa budaya dari perspektif sosiolinguitik. Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini meliputi beberapa teknik, yaitu simak, dokumentasi, dan observasi partisipan non aktif. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis isi guna mendapatkan informasi dari komunikasi dalam bentuk lambang, sumber data dari penelitian ini berasal dari film Ngeri-Ngeri Sedap, yang diperoleh melalui dialog antar tokoh. Hasil penelitian menunjukkan keterkaitan erat antara bahasa yang digunakan oleh para tokoh dengan latar budaya Batak Toba mereka. Simpulan dari penelitian ini adalah penggunaan bahasa daerah, alih kode, campur kode, dan variai bahasa dalam film secara autentik merefleksikan dinamika sosial, nilai budaya, dan identitas paratokoh dalam konteks keluarga dan masyarakat Batak Toba.</span></span></p>Aminah LestariSugiartiYeni Susilowati
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062290303ANALISIS UJI ASOSIASI KATA TERHADAP LEKSIKON MENTAL BERBASIS GENDER
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/7005
<p>Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalis perbedaan kapasitas leksikon mental berbasis gender melalui uji asosiatif kata teori Kent-Rosanoff. Leksikon mental merupakan tempat penyimpanan kata dan segala informasi yang berkaitan di dalam otak manusia. Pada penelitian ini dilakukan penelitian mengenai leksikon mental untuk mengetahui pengaruh gender terhadap asosiasi dan variasi kosakata pada masing-masing gender. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data yang diperoleh berasal dari subjek kajian, yakni laki-laki dan perempuan berdasarkan stimulus yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kapasitas leksikon mental di antara dua gender yang dikaji dengan rincian subjek laki-laki memiliki kapasitas leksikon mental lebih tinggi pada kategori emosi dan sensasi, makanan dan minuman, warna, dan konsep abstrak waktu dengan selisih 16,28%. Tingkat respons tertinggi terdapat pada kategori bagian tubuh, yakni 23,88%, sedangkan yang terendah pada objek buatan manusia dan aktivitas sehari-hari, yakni 7,25%. Penelitian ini mengungkap adanya perbedaan maupun kesamaan pada kapasitas leksikon yang dipengaruhi beberapa faktor, baik secara sosial, budaya, maupun individu. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber belajar dan acuan pada penelitian yang akan dilakukan di masa depan.</p> <div class="jso-cursor-trail-wrapper" style="position: fixed; left: 0px; top: 0px; width: 100vw; height: 100vh; overflow: hidden; pointer-events: none; z-index: 9999;"> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 0px; top: 0px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 707px; top: 150px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 706px; top: 149px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 695px; top: 147px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 674px; top: 146px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 648px; top: 144px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 641px; top: 142px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 634px; top: 139px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 619px; top: 135px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 582px; top: 124px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 560px; top: 118px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 545px; top: 116px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 540px; top: 116px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 536px; top: 117px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 533px; top: 123px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 523px; top: 147px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 445px; top: 154px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 426px; top: 90px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 516px; top: 120px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 705px; top: 63px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 835px; top: 165px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 491px; top: 198px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 588px; top: 71px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 591px; top: 70px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 375px; top: 198px; pointer-events: none; display: none;"> </div> <div class="jso-cursor-trail-shape" style="position: absolute; left: 504px; top: 171px; pointer-events: none; display: none;"> </div> </div>Febrianti WulandariLina Lutfiyah FitriLintang Balkis IhsaniIntan Nanda Kastiyan Ningsih
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062304313ANALISIS NILAI MORAL DAN SPIRITUAL CERITA LEGENDA DAMPO AWANG, REMBANG
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/7079
<p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai moral dan spiritual dalam cerita legenda Dampo Awang dari Rembang, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan sumber data utama berupa buku Cerita Rakyat Pesisir Timur (2019) dan data sekunder dari literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda ini mengandung nilai moral seperti hormat kepada orang tua, bahaya kesombongan, dan pentingnya kerja keras, serta nilai spiritual seperti kekuatan doa, pengakuan terhadap kekuatan ilahi, dan simbol-simbol keramat. Nilai-nilai tersebut relevan dengan konteks pendidikan karakter dan spiritualitas masyarakat modern. Kajian ini memberikan kontribusi dalam pelestarian budaya lokal dan pengembangan materi pembelajaran berbasis kearifan lokal.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: Nilai moral, nilai spiritual, Dampo Awang, cerita rakyat, pendidikan karakter</p>Serly Eka WicahyaniNayla Hasna NafisahAwwalina RohimahAtik Fatchiyatul MunaMohammad Kanzunnudin
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062314324POLA PELAFALAN PENUTUR ASING PADA AKUN TIKTOK ALEXANDRA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KETERAMPILAN BERBICARA KELAS BIPA
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/7068
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola pelafalan penutur asing berbahasa Indonesia pada akun TikTok Alexandra dan implikasinya terhadap keterampilan berbicara kelas BIPA secara deskriptif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi, yaitu menganalisis konten video TikTok Alexandra. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa data pelafalan dalam video konten TikTok Alexandra ditemukan sebanyak 31 data dari 17 video. Jenis perubahan bunyi zeroisasi yang ditemukan sebanyak 13 data (42%) dengan 8 pola pelafalan yang terdiri dari 5 data zeroisasi sinkop dengan 3 pola, 4 data zeroisasi aferesis dengan 3 pola, dan 4 data zeroisasi apokop dengan 2 pola. Jenis modifikasi vokal yang ditemukan sebanyak 8 data (26%) dengan 4 pola pelafalan yang terdiri dari 7 data ablaut dengan 3 pola dan 1 data umlaut dengan 1 pola. Jenis netralisasi yang ditemukan sebanyak 4 data (13%) dengan 4 pola pelafalan. Jenis monoftongisasi yang ditemukan sebanyak 4 data (13%) dengan 2 pola pelafalan. Jenis anaptiksis, yaitu anaptiksis epentesis sebanyak 2 data (6%) dengan 2 pola pelafalan. Jenis perubahan bunyi yang banyak ditemukan dalam video konten TikTok Alexandra, yaitu jenis zeroisasi sebanyak 13 data (42%). Sedangkan jenis perubahan bunyi yang sedikit ditemukan, yaitu jenis anaptiksis sebanyak 2 data (6%). Hasil penelitian ini selanjutnya diimplikasikan sebagai alternatif pembelajaran kelas BIPA level-3 dalam capaian unit kompetensi keterampilan berbicara.</p>Hilwa Tsabita IhsaniSintowati Rini Utami
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062325339ANALISIS STRUKTURALISME PUISI MODERN PUISI KETIKA ADA YANG BERCERITA TENTANG CINTA MENGGUNAKAN PENDEKATAN OBJEKTIF KARYA AAN MANSYUR
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/7208
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan analisis strukturalisme terhadap puisi modern berjudul "Ketika Ada yang Bertanya Tentang Cinta" karya Aan Mansyur. Teknik analisis struktural digunakan dalam kajian dokumen terhadap struktur batin dan struktur fisik puisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puisi ini mengangkat tema cinta yang disampaikan secara simbolik dan imajinatif. Tokoh aku lirik mengekspresikan cinta melalui aroma benda milik kekasih sebagai bentuk kehadiran yang tidak langsung. Struktur fisik puisi terdiri dari dua bait dengan jumlah baris tidak beraturan. Gaya bahasa yang digunakan mencakup metafora, personifikasi, dan simbolisme. Tipografi puisi tampak bebas, dengan pemilihan huruf kecil dan penghilangan tanda baca pada beberapa bagian, memperkuat kesan puitis dan emosional. Cinta dalam puisi ini ditafsirkan sebagai sesuatu yang tak terdefinisi secara logis, namun dapat dirasakan melalui kedekatan yang sangat personal.</p>Putri nurazizah
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062340350Telaah Kritis terhadap Substansi Tesis Representasi Identitas dalam Novel Lampuki
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/7207
<p>Tulisan ini mengkaji secara kritis tesis yang membahas representasi identitas dan konflik sosial budaya dalam novel Lampuki karya Aceh. Kritik difokuskan pada ketidaksesuaian antara teori dan analisis, kelemahan metodologi, serta kurangnya eksplorasi konteks sosial budaya lokal Aceh. Tesis tersebut menggunakan beberapa teori, namun integrasi dan penerapannya kurang konsisten sehingga mengurangi kedalaman analisis. Metode deskriptif kualitatif yang digunakan juga kurang terstruktur dan kurang menjelaskan proses analisis data secara rinci. Selain itu, nilai-nilai kearifan lokal Aceh, seperti adat dan agama, tidak tergali secara memadai sehingga latar budaya novel kurang terekspos dengan jelas. Kontribusi ilmiah tesis masih terbatas pada penerapan teori tanpa pengembangan konsep yang signifikan. Berdasarkan temuan tersebut, tulisan ini memberikan saran pengembangan teori, metode, dan pendalaman konteks lokal untuk penelitian selanjutnya agar lebih kritis, sistematis, dan relevan dengan kondisi sosial budaya Aceh.</p>Safinatul LailiyahJoko Widodo
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062351365MENGURAI TANDA, MENAFSIR MAKNA: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM NOVEL DOMPET AYAH, SEPATU IBU KARYA J.S. KHAIREN
http://journal.stkipsubang.ac.id/index.php/aksentuasi/article/view/7495
<p>This study analyzes the novel “<em>Dompet Ayah, Sepatu Ibu</em>” using Roland Barthes' semiotic approach to uncover the meaning behind the signs that appear in the text. With Barthes' theory, this study dissects three layers of meaning, namely denotation, connotation, and myth. At the level of denotation, wallets and shoes in the novel represent everyday objects with practical functions. At the level of connotation, these two objects reflect the emotional and social dynamics in the family, such as the role of the father as the breadwinner and the mother as the guardian of the household balance. Furthermore, through the concept of myths, this analysis reveals how these symbols shape broader cultural narratives regarding gender roles, patriarchal values, and social constructions of the ideal family. Thus, this study highlights how literary texts not only convey stories, but also shape and reproduce social meanings that are rooted in society.</p>Sundus AfifahHeri Isnaini
Copyright (c) 2025 Publisher STKIP Subang
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2025-12-202025-12-2062366378